Mari Membedah Problema Puber Kedua Pria (Part 1)

0
3

Konon katanya, puber kedua merupakan masa kembalinya gairah para pria yang bertahun-tahun terlupakan… Lalu, benarkah demikian?

Pernahkah kamu merasa diri sedang dalam kondisi prima, sangat memperhatikan penampilan dan penuh percaya diri layaknya para remaja yang sedang dirujung asmara?

Itu gejala masuk masa puber kedua, lalu apa sja yang perlu diperhatikan selama berada dalam masa puber kedua? Benarkah kondisi seprima itu juga ada kondisi seksualnya?

Ini Dia 5 Tips Bikin Kamu Bertahan Lebih Lama di Ranjang

Puber kedua atau krisis paruh baya adalah masa yang biasanya dialami pria mau pun perempuan. Mereka semua mengalami masa ini saat usia 40 tahun, dengan gejala menyeruai masa pubertas remaja, baik fisik maupun psikis.

Bedanya, perubahan yang terjadi pada puber kedua justru lebih tampak, dibandingkan dengan puber remaja. Tentunya masa puber kedua ini perlu diwaspadai, khususnya untuk urusan seksualitas.

Perubahan fisik pada pria yang mengalami puber kedua antara lain, tumbuhnya rambut berlebih ditubuh terutama bagian tengah dahi dan punggung, perubahan nada suara menjadi lebih dalam atau turun hingga tiga oktaf.

Serta pertumbuhan bagian tubuh tertentu yang terkadang mengakibatkan bentuk tubuh menjadi tidak profesional.

Secara psikologis, para pria yang berusia 40-an sudah cukup matang. Pengalaman dan catatan sukses dalam karier seseorang, akan semakin matang dan menjadi nilai plus sosok pria di usia tersebut.

Jiwa petualang mereka akan kembali muncul, yakni hobi baru, rasa penasaran terhadap hal-hal baru, termasuk di antaranya ialah tipikal perempuan idaman baru.

Selain Bikin Semangat Kerja, Bercinta di Pagi Hari Punya Manfaat Lainnya!

Mereka pun merasa mampu menemukan kehidupan bercinta sesuai seleranya…

Dari sini lalu timbul anggapan bahwa pria yang mengalami puber kedua memiliki gairah menggebu-gebu, layaknya pemuda yang baru kenal seks. Benarkah? Penurunan hormon testoteron. Dengan demikian, kemampuan seksual pria di masa puber kedua juga menurun.

Jadi secara tidak langsung, anggapan tersebut tidak bisa dibenarkan. Kurangnya testoteron pada laki-laki bisa disebabkan oleh dua faktor, premier dan sekunder.

 

(Visited 455 times, 1 visits today)